Kudeta Hati

Ada-ada saja Indonesia. Tak pernah sepi frasa yang bikin kita garuk-garuk kepala. Istilah kudeta hati, kontroversi hati, labil ekonomi, situasisasi, harmonisisasi, mempertakut, dan berbagai ungkapan aneh, berhamburan liar tak beraturan dan menggalaukan.

Awalnya, adalah pertunangan artis dangdut Zaskia Gotik dan Vicky Prasetya yang akhirnya bubar, selanjutnya adalah wabah ungkapan olok-olok ucapan  “intelek” Vicky.

Dengar untaian kata-kata berikut: “Tetap di usiaku saat ini twenty nine my age. Tapi aku masih tetap merindukan apresiasi karena basically aku senang. Senang music gitu, walaupun kontroversi hati aku menunjukkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya…kita belajar ya…harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita tidak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta hati apa yang menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia. Tapi menjadi confident. Tapi kita mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi...”  ucap Vicky Prasetya seperti disiarkan beberapa stasiun televisi swasta nasional dalam acara infotainment.

Transkrip wawancara Vicky tersebut menyebar dalam berbagai versi di facebook, twitter, dan juga di grup BBM. Frasa kudeta hati yang dimaksud, tak jelas maksudnya. Atau setidak-tidaknya tak ada hubungan dengan isu kudeta yang pernah dilontarkan Presiden SBY beberapa waktu lalu, apalagi dengan kudeta di Mesir yang maknanya sangat jelas.  Mungkinkah kalimat “intelek” Vicky terlepas dari konteksnya sehingga susah dipahami?

Antonio Gramsci dalam bukunya  Prison Notebooks menyebutkan, setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi intelektual, tapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial. Kamus Umum Bahasa Indonesia atau KBBI (Badudu, 1996), secara lebih jelas menggambarkan, intelektual diidentikkan dengan kaum intelek, kaum terpelajar, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M.Echols, 1989) pula menyebut, intellectual diartikan sama dengan cendekiawan, cerdik dan pandai.

Masyarakat kita agaknya sedang mengalami kekacauan dalam diri individu, yang dicirikan oleh ketidakhadiran nilai-nilai, perasaan terasing dan ketiadaan pedoman. Kondisi ini menurut Emile Durkheim, sosiolog Prancis, sangat umum terjadi apabila masyarakat mengalami perubahan-perubahan besar dalam situasi ekonomi, entah semakin baik atau semakin buruk, atau ketika ada kesenjangan besar antara teori-teori dan nilai-nilai ideologis yang umum diakui  dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Vicky Prasetya yang mencoba berimprovisasi, boleh jadi adalah individu yang termasuk dalam identifikasi Emile Durkheim tersebut. Entahlah.

Sebaiknya, menjauh sajalah dari dunia selebritis yang penuh dengan gosipisasi, khayalanisasi, keanehanisasi, pendunguanisasi, pembodohanisasi, percintaanisasi, penyesatanisasi yang bisa menimbulkan kudeta hati. Penulis ketularanisasi Vicky..ha..ha..

Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kudeta Hati"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish