Jodoh: Boleh Di Tukar Tambah Jika Salah Pilih

Teringat curhat teman baik saya yang masih sama-sama single fighter di usia mid-30. Saat ayahnya meninggal dunia 2 tahun lalu, seluruh keluarga besar berkumpul dan sibuk ‘mengkuliahi’ si gadis yang masih belum menemukan jodohnya ini.

“Gak usah terlalu picky, tar malah dapet yang busuk…”

“Perempuan itu kodratnya jadi istri dan ibu, mau mengejar karier sampai kapan sih…”

“Tambah tua pasaran makin jatuh, mending terima aja deh si Anu…”

Sambil menangis kesal dia curhat pada saya di BBM. Saya kenal dia sejak 15 tahun yang lalu, sama-sama student di negeri orang, tinggal sekamar di asrama. Saya tahu semua mantan pacarnya dan kisah cintanya yang berakhir tragis semua, seperti halnya dia tahu semua kisah cinta saya yang juga berakhir tragis.Dia gadis manis yang sangat baik, cerdas, sayang keluarga, dan tipe setia. Kalau mau jujur, pria yang mendapatkan dia sebagai istri akan sangat beruntung, sebaliknya pria yang mendapatkan saya artinya bernasib malang….hahahahahaha….

Dari kacamata saya, baik saya maupun teman saya bukan termasuk type terlalu pemilih. Kalau selektif sih iya ya (bela diri mode on), lah gimana gak, ini pilih jodoh buat hidup bersama seumur hidup lho, wong kalo kita milih buah saja mesti bawel, padahal kan sekali makan langsung menuju ke (maaf) toilet…

Sambil menangis plus marah2, teman saya bilang,”Memangnya nanti kalo gw kawin terus gak bahagia, mereka mau ikut nangung? Memangnya nanti kalo gw nikah terus cerai mereka mau bayarin biaya hidup anak-anak gw?” Saya menganguk-angguk setuju. Saya masih lebih beruntung dari dia, karena keluarga besar saya cuek satu sama lain, jadi gak ada yang usil nanya-nanya kapan saya nikah hehehe… Ibu saya juga tidak terlalu peduli dengan keputusan hidup saya untuk menikah atau tidak. Penyebabnya? Pernikahan orang tua saya jauh dari kata bahagia meskipun mereka setia sampai maut memisahkan.

Kebetulan ayah saya juga sudah meninggal 6 tahun lalu, tinggal ibu saya yang tinggal sendirian di Jakarta berhubung saya dan adik saya masih betah mengejar mimpi di negeri orang. Sebelum ayah saya meninggal, setiap saya contact ke rumah, ibu saya sibuk complain soal ayah saya. Keras kepalanya, sifat emosian, sampai masalah hobby ayah saya minum kopi dengan gelas segede gaban jadi uneg-uneg ibu saya. Saya yang sudah biasa melihat pertengkaran ortu dari usia TK cuma mendengarkan tanpa komen, percuma, kalo komen tambah runyam. Kalau ibu saya iseng bertanya kapan saya nikah, “Mama aja gak bahagia menikah, ngapain saya mesti buru-buru.” Selesai perkara.
Sempat ngobrol dengan beberapa pasangan berbagai usia dengan usia pernikahan beragam. Dari yang masih pengantin baru kinyis-kinyis, sampai yang sudah melewati 30 tahun perkawinan. Sialnya, hasil ngobrol gak karuan malah bikin nyali saya tambah ciut untuk menikah.

Pasangan A, misalnya, 35 tahun menikah, 4 anak sudah dewasa dan sehat2, kondisi ekonomi jauh lebih baik daripada saat mereka baru menikah, sang istri jengkel dengan sifat suami yang katanya tambah tua tambah keras kepala.

“Kalau bisa ditukar sama ayam, udah saya tukar dari dulu-dulu..”

Nah, lho, masa pasangan yang sudah bersama 35 tahun mau ditukar ayam???  Kalau mau ditukar rumah atau mobil mungkin saya masih bisa mengerti…(ngawur.com).

Yang satu lagi, pasangan B, sang suami cinta mati-matian pada istrinya saat belum menikah, sampai bolak-balik Indonesia-Amerika demi memenangkan hati calon istrinya dulu. Istrinya dulu termasuk kembang kota Bogor, banyak perjaka ngantri melamarnya, tapi akhirnya luluh pada suaminya ini karena begitu gigih mengejar sampai rela terbang bolak-balik ribuan miles.

Tapi setelah sang istri diboyong ke Amerika, semua bayangan indah buyar, sang suami mulai nyinyir ketika istrinya belum ada pekerjaan, katanya cuma makan tidur di rumah, lah wong umur 18 tahun sudah dinikahi, baru datang dari Indonesia tanpa bekal keahlian apa2, bahasa Inggris berlepotan, memang gampang cari kerja? Begitu dapat kerja, sang suami mulai cemburuan dengan semua rekan kerja san istri yang berjenis kelamin pria. Setiap cemburu makian dan pukulan melayang. Sambil nangis sang istri curhat ,”Tahu gini gak mau saya jauh-jauh ke negeri orang, mending kawin sama tetangga sebelah, udah ketahuan kalo ada apa2 masih ada orang tua yang bisa membantu saya. Coba kalo boleh tukar tambah, udah saya tukar tuh si xxx sama lelaki lain.”

Lain lagi teman baik saya saat SMA, sama seperti kawan baik yang pertama, saya tahu semua track record pacaran teman SMA saya ini. Termasuk saat dia pertama kali bertemu pria yang akhirnya jadi suaminya sekarang. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, head over heels. Yang wanita cantik, tinggi langsing, lulusan luar negeri, dari keluarga berada. Yang pria gagah, tinggi besar, lulusan universitas bergengsi di Indonesia, juga dari keluarga berada. Pasangan sempurna. Sekarang usia pernikahan mereka sudah 7 tahun. Beberapa bulan lalu saya sempat berbincang dengannya di telepon.Dia bilang, suaminya sekarang gila kerja, mereka cuma bertemu saat weekend, itu juga kalau suaminya gak lembur. Suaminya setia, juga tidak pelit, keuangan diserahkan pada teman saya, teman saya kegiatannya sebatas mengurus rumah dan anak.

Mau tahu penyesalannya? Dia merasa kehilangan kesempatan berkarier, karena begitu lulus kuliah langsung menikah dan punya anak, sekarang dia merasa kesepian, dan kehilangan arah hidup, sementara suaminya sibuk mengejar karier, dengan tujuan baik tentunya, memberi kehidupan layak bagi anak istrinya. Teman saya bilang, kalau waktu bisa kembali, dia akan memilih mengejar karier dulu, memiliki pencapaian pribadi sebelum memutuskan menikah. Pesan dia untuk saya, cinta yang seberapa indahnya sekalipun, tidak worth it untuk dikejar duluan sebelum saya mencapai karier impian dan melakukan hal-hal yang saya impikan secara pribadi.

Jujur, saya kadang iri juga kalau sedang jalan sendiri lalu melihat pasangan bahagia dengan anak-anaknya yang lucu-lucu. Apalagi saya suka sekali anak kecil. Tapi kalau menilik sifat pribadi saya yang memang agak ‘nyeleneh’, seperti misalnya kalau beli baju baru, saya simpan dulu sampai beberapa minggu di bungkus aslinya beserta receipt supaya bisa saya kembalikan kalau menyesal, atau memberi barang yang baru saya beli belum lama pada orang lain hanya karena barang itu tidak perfect seperti bayangan saya saat sebelum membelinya, rasanya lebih aman memang kalau saya tidak menikah. Kan kasihan jodoh saya nanti, kalau setelah menikah saya terpikir untuk mengembalikan atau tukar tambah. Apalagi perceraian tidak ada di kamus saya. Jadi ada resiko menghabiskan sisa hidup dengan tidak bahagia karena salah pilih jodoh.

Hidup saya, dan teman saya yang masih jomblo juga, cukup bahagia. Kami sudah travel ke berbagai negara, sudah pernah mencoba berkarier di negara orang, bertemu bermacam model, bentuk, dan sifat manusia. Kami juga bahagia belum menikah karena banyak mendengar curhat dari teman-teman yang sudah menikah dan menyesal (jahat banget ya).

Saya pribadi pernah hampir menikah beberapa kali, tapi gagal karena berbagai sebab, memang belum jodoh mungkin, atau Tuhan masih kasihan pada para pria yang nyaris jadi jodoh saya itu..hahahaha…Penyesalan karena pernah menyakiti dan mengkhianati orang-orang yang cukup gila untuk memilih saya sebagai calon istri memang ada, tapi kalau waktu bisa kembali, saya akan tetap memilih tidak menikahi mereka, sebaliknya saya akan memilih tidak pacaran dengan mereka at the first place. Mengurangi dosa menyakiti hati orang lain.

Toh akhirnya mereka mendapatkan istri yang lebih sepadan dibanding saya. Salah satu mantan saya menikah dengan dokter bedah ternama di China, mantan yang lain menikah dengan putri salah satu pengusaha terkaya di Surabaya, kabar terakhir mantan yang lain lagi akan segera menikah dengan cewek cantik kinyis-kinyis usia awal 20 yang mirip dengan artis Sandra Dewi. Setidaknya kabar bahagia dari mereka membuat saya ikut bahagia, dan tentu mendoakan amit-amit, jangan sampai, mereka terpikir    untuk tukar tambah jodohnya suatu hari nanti.

Akhir kata, for my sweet dear friend di Singapore, saya percaya hanya seorang pria yang luar biasa dan spesial yang layak menjadi pasanganmu suatu hari nanti. Dan ingat, tawaran masih terbuka untuk bersama-sama membuka panti asuhan di tanah air di hari tua nanti kalau kita masih sama-sama jomblo… Until then, keep fighting, never give up to find the one who deserves you, karena ingat, belum ada toko tukar tambah suami atau istri (catatan: ini bukan peluang bisnis,lho).

Oleh: Verdiana
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jodoh: Boleh Di Tukar Tambah Jika Salah Pilih"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish