Sholat Itu Yang Menyatukan Kita

Masih samar-samar ku dengar kamu mmenyatakan cinta dengan serius karena setelah perkenalan itu kamu kembali untuk menanyakan imailku dan menyaksikan aku lagi sholat. perkenalan itu idea temanku yang dulu suaminya sama-sam kuliah di Ersamus universiti, istri temanku menelepon berkali-kali kalau dia berniat mengenalkan teman suaminya yang lagi liburan di Indonesia. akupun menyikapinya biasa-biasa saja karena aku lagi bekerja dan telepon terus berdering, akhirnya ku katakan sini saja kalau mau kenalan aku lagi kerja nih. akhirnya kamu datang di antar suami temanku dan ngobrol-ngobrol sebentar dan kamupun pamit karena mau liburan keliling Asia katamu dan sekarang harus bergegas ke Bali berhubungng tiket sudah di beli dan jadwal liburan sudah di program dan kamupun pergi.

Kebetulan di tempat kerja lagi sepi setelah kepergianmu berniat mau sholat saja tapi ketika aku sudah mengenakan mukena kamupun kembali untk menayakn imailku dan dari situlah mulanya kamu benar-benar merasa yakin kalau akulah oarang yang selam ini kamu cari dan kesimpulan itu kami sampaikan kepada temanmu yang mengantarkanmu untuk berkenalan denganku tapi apa kata temanmu, kamu gila baru ketemu smenit sudah langsung jatuh cinta, katamu lagi aku yakin karena selama aku travel keliling kamu hanya menemui wanita-wanita gateul yang aneh dan cenderung tak pinya iman, kamu punya keyakinan kalau aku bisa berbuat nakal karena kesempatan yang besar untuk ke arah sana di mana kamu bekerja di tempat yang bergelimang kemewahan dan banyak sekali godaan dari para pelancong juga kebebasan yang kamu miliki karena kamu di tempat yang jauh dari pentauwan orang tua. juga kamu tidak jelek untuk bisa menjerat para pria iseng tapi itu tak ku temukan di kamu yang ku temukan kamu lagi mau sholat di usia seperti kamu kamu bisa menjadi liar dan merengut segala kebebasan hidup kerana itu   masa milikmu di mana segala pesta ria itu bisa jadi milikmu tapi itu tak ku lakukan.

Aku memang tak melakukan karena aku terlalu pengecut dengan apa yang ku takutkan yang katanya kalau minum alkohol haram dan kalau berbuat sex bebas juga haram dan kalau bla..bla…dah pusing aku dengan segala peraturan itu, akupun mau sperti orang-orang yang bebas melanggang tanpa dosa ketemu cowok sekali klik langsung ngamar dan tak jarang mereka sukses melenggang ke pernikahan dan mempunyai keluarga yang bahagia dan mungkin juga berakhir dengan kematian yang sholehah. tapi itu tak ku ungkapkan biarlah hanya menjadi omelanku di waktu luang,aku hanya manggut-maggut saja mengamini apa yang kamu katakan karena kamu sedang berusah manyanjungku sampe aku seperti terbang tak bersayap karena sanjunganmu.

Masih sangat jelas ketika kita makan siang dis sebuah kafe teaptnya di bunderan jalan sduirman kamu mengungkapkan semuanya setelah kamu kembali dengan cepat dari bali karena di bali kamu terus memikirkanku katamu.

tak menyia-nyiakan waktu karena aku kejar tayang denga usiaku dan berbagai hal yang ku alami maka akupun memutuskan menantangmu untuk menikah besok dengan berbekal nekad dan jaminan kalau kami laki-laki baik dari temanku yang mengenalkanku.

Aku yang sudah hampir muntah dengan  mendapatkan banyak rayuan dan gombal yang ujung-ujungnya meminta ngamar itu tak mau lagi buang waktu tak berguna  mendengarkan ocehan dari para pria yang merayuku.

Jawaban pertama dari kamu adalah saya akan menyiapkan segala sesuatunya dan di bulan desember kamu bisa berkunjung ke negara tempat saya bekerja itu katamu, dalam hati busyet nih orang mana bisa aku berkunjung ke negara tempatmu bekerja kalau tanpa ikatan yang jelas (pernikahan ) itu bukan karena orang tuaku akan tidak setuju karena bisa saja aku membohonginya tapi karena kau tak mau seperti itu sebab sudah bisa di bayangkan endingnya seperti apa kalau aku bisa berkunjung dan tinggal dalam satu rumah bersam-sama.

aku katakan lagi kalau aku harus menunggu tak bisa janji kalau desmber aku belum menikah karean aku tak mau membuang waktuku yag sudah mepet karena usiaku hampir bukan belia lagi dan aku akan menikah dengan siapa saja yang tidak menghalalkan gaya hidup bebas dan menghargai pernikahan itu kataku.

Mendapat jawaban begitu kamupun ketakutan dan dengan segera mengiyakan akan menikah besok bagaimanapun sulitnya proses yang harus di lalui. akupun mengabarkan kabar tersebut kepada ibuku yang tentu saja sangat senag dengan kabar tesebut, dalam hati kapan lagi membuat ibuku bahagia mumpung ada orang yang sama-sam linglung seperti diriku dan s
iap menikah setelah melihatku sholat. hanya karena berbekal penglihatan sholat tersebut kamipun yakin dan berbaik sangka kalau inilah jalan kami dan jodoh kami yang selama ini kami cari dan walau agak terlambat yang penting berkah di pertemukan oleh yang maha kuasa karena doa=doa kami dan orang tua kami  pikirku dan dia.

Tekad bulat kalau akan menikah dengan laki-laki yang tidak megutamakan nafsu walau ujung-ujungnya ke sana juga tapi minimalnya bisa menghargai wanita bukan barang percobaan sex semata dan di akhiri dengan komitment dan tanggung jawab maka Insya Alloh dengan ridhomu pernikahan sakinah mawada warohmah ada pada kita amin.

Oleh:

Ely Love Sawah

orang desa yang teramat sangat rindu kampung halaman sawah dan kampungku lebih memikat dari apapun
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sholat Itu Yang Menyatukan Kita"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish