Manajemen UN ter-Mmuuaacchhhh

Luar biasa dan bangga begitu saya berujar dalam hati, hingga saking bangganya hampir-hampir meneteskan air mata dengan pelaksanaan UN, karena UN 2013 setidaknya mampu menjadi sensasi yang tidak kalah menarik dan penting kita simak selain eyang subur.

Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam’an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”.

Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

Proses pelaksanaan UN 2013 yang menjadi ‘masalah’ besar bagi dunia pendidikan dan pelaku kegiatan pendidikan hendaknya harus kita tata ulang kembali dengan sebaik-baiknya, bukti nyata bahwa UN menjadi masalah adalah berbagai macam persoalan mulai dari keterlambatan, kualitas dan manajemen yang buruk tentang pengelolaan UN menjadi pil pahit yang harus diterima oleh para pelaku pendidikan, lebih-lebih khususnya bagi para peserta didik.

UN 2013 yang amburadul dan semerawut menjadi hal yang sangat memalukan bagi bangsa kita, ini sejarah baru dan ‘prestasi’ yang luar biasa, karena selama ini UN dalam dunia pendidikan kita belum pernah ‘ngaret’. Ngaretnya UN dan buruknya manajemen serta pengelolaan UN 2013 membuat kita memang harus ‘MENGHARAMKAN UJIAN NASIONAL’.

Dana ratusan milyar yang digelontorkan oleh pemerintah untuk pelaksanaan UN serta 20% APBN dana pendidikan tidak mampu berbuat banyak, ini bukti bahwa memang manajemen UN menjadi sesuatu yang mmmuuaachhh. Jika kita kembalikan kedalam konsep sebuah manajemen, tentunya sebagai MENDIKBUD tau apa yang harus dilakukan agar proses pelaksanaan UN sesuai dengan tujuan, efektif dan efisien. Mampu memberikan kemud
ahan serta keleuasaan bukan malah sebaliknya.

Bagaimana tidak UN yang jelas-jelas sudah diputuskan ‘Kalah’ oleh MK tahun 2008 hingga kini masih saja diterapkan, dan saya pikir berbagai macam dalih dan alasan yang dilontarkan keukeuh harus dilaksanakan UN semata-mata hanya untuk ‘gengsi’ semata. Gengsi terhadap negara tetangga, padahal kecerdasan tidak hanya diukur oleh angka-angka. Parahnya lagi dengan adanya UN ini membuat semua yang terlibat dalam pendidikan menjadi seorang ‘pembunuh dan pembohong’.
Pendidikan hanya melihat angka, bukan proses mendapatkan angka. Percuma angka yang besar dan memenuhi target tapi prosesnya penuh dengan ‘kejahatan sosial’. Sekali saya tegaskan terlepas dari apapun alasannya, prosesnya dan juga pelaksanaanya, mari kita bersama-sama ‘MENGHARAMKAN UN’. Cukuplah UN 2013 ini menjadi UN terakhir. Masih banyak bahan evaluasi yang jauh lebih baik lagi selain UN.

Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Manajemen UN ter-Mmuuaacchhhh"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish