Sudahkah bahasa Indonesia Dikenal Dunia

Sudah menjadi keistimewaan dan kebanggaan tersendiri jikalau suatu karya dikenal sampai ke penjuru dunia. Apalagi karya-karya yang sangat berkesan di hati sehingga menimbulkan sindrom penyakit tunggunuous bagi para penikmatnya. Adalah sindrom yang membuat orang selalu menunggu resah kapan karya ter-update dari sang seniman akan di-publish, dipamerkan, atau diperjual-belikan. Mengapa saya membicarakan tentang karya? Jawabannya adalah karena saya akan mengambil contoh dari suatu karya mendunia yang membuat para penggemarnya tergila-gila, resah menunggu kedatangannya ke kota penggemarnya, mengganti gaya berpakaian & bersosialisasi, dan efek-efek bombastis lainnya. Baca saja sampai tuntas.


Oke, tentu brew tahu 'kan negara Korea Selatan? Dulu Korea Selatan dan Korea Utara masih menjadi satu sahabat membentuk negara Korea. Tetapi setelah Perang Dunia II tahun 1945 negara Korea dipecah menjadi dua bagian. Yakni Korsel dan Korut yang sudah dikatakan tadi. Lalu Korea Selatan berkembang menjadi negara demokratis sedangkan Korea Utara menjadi negara berhaluan komunis.

Lalu jenis karya apa yang akan saya jadikan contoh sebagai patokan Inovasi Karya Anak Bangsa menuju Kemandirian Nasional? Yakni karya seni musik. Semua orang suka musik. Mereka mendengarkan musik di saat bosan, capek, enggak bisa tidur, enggak ada ide, belajar, ataupun sedang buang air besar. Bagi mereka yang mendengarkan musik di saat capek, maka rasa capeknya tersebut seolah-olah menghilang karena mereka merasa rileks saat mendengarkan musik kesukaannya. Bagi mereka yang mendengarkan musik di saat enggak bisa tidur, maka mereka dapat tertidur lelap karena telah mendengarkan musik kesayangannya. Dan bagi mereka yang mendengarkan musik di saat buang air besar, maka dijamin rasa bosan menunggu kotoran demi kotoran keluar akan cespleng, kabur dari fikiran.

Kebetulan karena saya penggemar berat musik-musik Korea, maka saya akan mengambil hikmah dari menyanyikan bait demi bait lagu Korea. Mungkin saja dapat memotivasi Anak Bangsa untuk dapat lebih kreatif dalam menuju kemandirian sosial.

Jutaan orang sudah terkena imbas sindrom tunggunuous yang disebarkan oleh artis-artis K-pop (Korean Pop). Termasuk saya. Lagu-lagunya yang atraktif, enak didengar, serta menyentuh hati membuat para K-popers (sebutan untuk penggemar K-pop) semakin jatuh hati. Entah berapa ratus ribu keping CD K-pop yang sudah berhasil terjual di pasar musik dunia. Entah berapa ratus kali saya mendengar orang-orang menyanyikan lagu Korea di jalan. Entah berapa ratus kali pula lagu-lagu korea saya putar hanya demi menghangatkan suasana hati. Bait demi bait, lirik demi lirik, lagu demi lagu telah saya cari di internet lalu mencoba menghafalkan serta menemukan maknanya yang tersembunyi dalam bahasa yang tidak saya kenal, Bahasa Korea. Alhasil, saya hafal beberapa lirik lagu Korea karena terlalu sering memutarnya. Tetapi maknanya belum saya temukan semua. Maklum kebanyakan website menyediakan makna lagu Korea dalam Bahasa Inggris, bahasa yang cukup ribet dalam penulisan maupun pelafan katanya. Namun setidaknya saya hafal beberapa lirik lagu Korea yang membuat orang percaya bahwa saya adalah K-poper.

Untuk mendapatkan maknanya secara tepat, diharuskan mengetahui arti kata demi kata yang terdapat pada lagu Korea. Saya pun menanyakan, "Arti kata ini apa ya?" sambil menunjukkan jari pada kata yang dimaksud kepada teman, orangtua, adik, tukang es cendol, tukang es cuwing, tukang parkir, tukang bakso, sampai tukang becak! Bagi mereka yang berbaik hati, tidak sombong, dan tentunya mengerti apa arti dari kata yang dimaksud maka akan menjelaskannya kepada saya. Namun bagi para tukang yang saya ragukan pengetahuan tentang bahasa lain, sudah dipastikan akan mengernyitkan dahi sambil berkata: "Enggak tau mas. Kambing atau monyet kali artinya,"

Berminggu-minggu saya searching di Mbah Google maupun Mbah Dukun seputar arti kata-kata bahasa Korea. Dan tahukah kau, kawan? Tiga kata berhasil dipecahkan artinya! Ya, tiga buah kata berhasil saya ketahui artinya. Hanya tiga, tak lebih. Mereka adalah saranghae yang artinya aku cinta kamu, oppa yang artinya kakak (jika pemanggilnya seorang perempuan), dan busyeo yang berarti buta. Hebat sekali, bukan?

Hari-hari berikutnya saya mulai sedikit-sedikit mempelajari bahasa Korea dari buku yang dibeli ibuku tiga bulan yang lalu. Saya menemukan kosakata-kosakata baru yang akhirnya menambah pengetahuan kata Korea saya. Seperti annyeonghaseyo, annyeonghasimnikka, chosumnida, nuna, gamsahamnida, sie kkaewo jusigesoyo, dan lain-lain. Jikalau dibandingkan pengetahuan kosakata saya dengan teman saya yang sudah lama ngefans sama K-pop itu bagaikan siput dengan kancil, bumi dengan langit, atau kambing dengan jerapah. Sangaaat jauh bedanya. Lebih parah lagi jika dibandingkan dengan anak-anak K-popers Indonesia lainnya. Bisa-bisa mental jadi menciut karena enggak pede. Tetapi setidaknya saya sudah mengerti beberapa makna kata dalam bahasa Korea. Ya, walaupun sebesar biji toge.

Melihat fenomena pada cerita tersebut, dapatkah Anda menarik sebuah kesimpulan penting? Kesimpulan yang menunjukkan Inovasi Karya Anak Bangsa menuju Kemandirian Nasional? Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa secara tidak sadar kita, bangsa Indonesia mempelajari bahasa Korea yang notabene bukan bahasa daerah ataupun nasional negara ini. Kita berusaha keras untuk mempelajari kata demi kata, kalimat demi kalimat agar mengerti apa sih makna sebenarnya dari lagu Korea tersebut. Yang nantinya secara lebih tidak sadar kita belajar banyak tentang bahasa Korea sampai hafal di luar. Memang betul fenomena di atas bukanlah inovasi karya anak Bangsa Indonesia dalam menuju kemandirian nasional. Tetapi inovasi karya anak Bangsa Korea menuju kemandirian nasionalnya yang diaplikasikan dalam seni musik.

Apa loe gak mau Bahasa Indonesia itu terkenal seantero dunia? Apa loe gak mau orang-orang berbondong-bondong bersusah payah sambil jungkir balik menghafal kosakata-kosakata Bahasa Indonesia? Apa loe gak mau kalau nanti ada istilah baru yang disebut I-pop (Indonesian Pop)? Nah, kao loe mau semua orang bisa berbahasa Indonesia, maka kerjasama! Kerjasama mendukung artis atau boyband asal Indonesia. Jangan cuma bisa mengejek dan mengejek lagu-lagu mereka yang dianggap meniru lagu orang lain. Cintailah produk dalam negeri. Atau dengan cara yang lain, misalnya loe sendiri yang nanyi berbahasa Indonesia tetapi kualitas luar negeri. Atau loe punya cara tersendiri yang lebih jitu daripada punya guwhe? Berkreasilah sekreasi-kreasinya! Mari kita kenalkan Bahasa Indonesia pada dunia luar! Mari kita jadikan Bahasa Indonesia menjadi bahasa pokok yang wajib dipelajari di seluruh negara di dunia!
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sudahkah bahasa Indonesia Dikenal Dunia"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish