Pacaran = Pencitraan


Pacaran merupakan kata yang sangat familiar di telinga remaja, bukan hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri pacaran dimaknai dengan hubungan antara dua orang lawan jenis berdasarkan cinta kasih. Sebelumnya penulis ingin menjelaskan bahwa yang dimaksud di sini adalah pacaran yang dilakukan sebelum menikah dan kerap kali dilakukan oleh para remaja.

Sejatinya pacaran dilakukan oleh seseorang untuk mencari pasangan hidup yang dirasa tepat untuk membangun bahtera rumah tangga. Kesamaan visi, pola pikir serta kecocokan satu sama lain dirasa perlu diketahui dengan harapan ketika menikah mereka dapat mencapai kebahagiaan. Karena sama- sama telah mengetahui kelebihan dan kekurangan masing- masing. Sehingga tidak banyak terjadi perbedaan dan perselisihan yang cukup besar. Maka tak jarang bahwa banyak sekali remaja yang berkali- kali melakukan pacaran.

Tidak adil memang jika pacaran dijadikan sebagai parameter untuk mencapai keberhasilan sebuah pernikahan. Seseorang yang pacaran hingga berhasil menikah selalu dikaitkan dengan happy ending seperti cerita di negeri dongeng. Memang, adakalanya mereka yang pacaran dan berujung di pelaminan dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia. Namun, banyak pula kenyataan yang justru sebaliknya. Seorang teman saya pernah bercerita, bahwa ia memiliki tetangga yang pacaran lebih dari lima tahun, namun ketika menikah, dua bulan kemudian mereka bercerai. Ironis bukan?

Pacaran bukanlah sebuah jaminan, karena dalam berpacaran, banyak sekali kebohongan yang dilakukan. Seseorang akan berusaha membuat pacarnya bahagia, sehingga ia berusaha untuk memenuhi segala keinginan kekasihnya, meskipun ia harus berubah menjadi orang lain sekalipun. Ini merupakan bentuk “pencitraan” semata yang dilakukan dalam fase pacaran. Dan telah kita ketahui bahwa pencitraan merupakan sebuah upaya yang kurang tulus dan cenderung dipaksakan karena tidak keluar dari kepribadian asli. Akibatnya, kata- kata dan senyuman manis yang sering dilakukan ketika berpacaran akan mudah hilang setelah seseorang ganti jabatan pasca pernikahan.

Saat ini, sudah biasa jika seseorang menyebut atau membicarakan kata “pacaran”. Namun bila kita mau melihat zaman orang tua atau nenek- kakek kita dulu. Hmmm, pacaran merupakan hal yang super tabu untuk dibicarakan apalagi dilakukan. Pada kenyataannya, mereka, Eang Kakung dan Eang Uti juga bisa hidup bahagia tanpa pacaran, mempunyai anak, hingga mempunyai cucu yang imut- imut seperti kita.

Pencarian pendamping hidup memang bukan perkara yang sepele dan mudah. Namun caranya juga bukan harus berpacaran. Karena Tuhan juga sudah menggariskan jodoh setiap manusia. Seorang laki- laki baik, ia pantas mendapatkan wanita baik pula, begitu juga sebaliknya. Jadi, untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik dalam segi jasmani maupun rohani, sebaiknya ia memperbaiki dirinya, sehingga pantas bersanding dengan pasangan baik yang ia dambakan. Kecocokan, kesamaan visi dan sebagainya tidak serta merta menjamin kebahagiaan. Selama hubungan pernikahan didasari ibadah dan bermahkota cinta yang suci dengan aksesoris kepercayaan dan kejujuran, bahtera rumah tangga dapat berjalan mengarungi samudera kehidupan dengan kebahagiaan. Selain itu, saling mengerti dan menerima merupakan resep wajib bagi mereka yang mengharap abadinya tali pernikahan.
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pacaran = Pencitraan"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish