Cinta Itu Buta Tapi Bukan Membabi Buta



Mengapa umumnya kita suka menonton film drama romantis yang berakhir bahagia, padahal realita yang ada di sekeliling kita mungkin lebih banyak terjadi kisah cinta yang mematahkan hati dan mememarkan  jiwa ?.

Jawabannya sebenarnya tidak serumit yang kita perkirakan.  Bahwa diantara situasi yang mengkondisikan kita untuk menjadi pesimis dengan kekuatan cinta, terkubur jauh  di bawah alam sadar,  sebenarnya kita selalu menyimpan   secercah kepercayaan bahwa satu satunya yang bisa membawa kita keluar dari beban dan penderitaan hidup adalah cinta.

Saya cukup setuju dengan terminologi yang mengatakan cinta itu buta. Tapi saya percaya bahwa kebutaan itu memiliki derajat kepekatan yang berbeda. Ibarat gerhana matahari, ada yang seperempat, setengah , dan ada yang memang total gelap.  Seandainya  cinta itu sungguh sungguh buta, kenapa para wanita harus susah susah berdandan dan rumit sekali kalau memilih baju ketika saat kencan tiba ?.

Satu lagi faktor pendukung yang membuat saya percaya bahwa pada derajat tertentu memang cinta itu buta, karena istilah Jatuh Cinta itu sendiri. Seandainya masing masing kita bisa memilih kepada siapa kita hendak mencintai, maka sebutan jatuh cinta itu akan berubah menjadi Taruh Cinta!.

Saya belum menonton film yang sedang menghebohkan Indonesia belakangan ini yaitu kisah cinta Habibie dan Ainun, yang untuk sejenak memberikan kepada kita satu kelembutan rasa yang sedikit mengobati luka hati rakyat akibat tingkah laku para politisi dan pejabat tinggi.

Dari yang saya lihat ketika Habibie muncul pada acara Mario Teguh hari Minggu malam, jelas terpancar rasa kehilangan yang mendalam dalam diri eyang Habibie, dan mengiringi rasa cintanya kepada ibu Ainun, ada satu penghargaan dan rasa hormat yang luar biasa yang sungguh tak lekang oleh waktu.

Cinta tanpa diikuti rasa hormat dan menghargai, akan luntur bersama hari hari berlalu.  Tanpa dikuatkan dengan rasa saling menghargai yang mendalam,  maka gundukan cinta setinggi gunung sekalipun akan perlahan rata.

Apa yang membedakan rumah tangga yang langgeng dan tidak langgeng ?. Apakah Cinta ?  Jawabannya adalah tidak! .  Hampir semua pasangan ketika mengikatkan janji sehidup semati, akan mengatakan bahwa ketika mereka menikah, itu semua berlandaskan cinta. Lalu mengapa ada pasangan yang bisa mempertahankan cintanya seperti Habibie-Ainun, sementara yang lain bahkan ketika masih harus menyicil pembayaran hutang biaya pesta, proses perceraian sudah dimulai, padahal ketika menikah semuanya mengatakan memiliki cinta yang besar .

Rasionalisasi saya terhadap penjelasan Habibie yang mengungkapkan mengapa dia begitu menghargai ibu Ainun dan sangat mencintainya, adalah karena Habibie menyadari ketika dia melamar Ainun, maka Ainun  adalah seorang wanita yang memiliki  potensi mengagumkan, berpendidikan dokter dan sedang menapaki  masa depan yang cerah dan menjanjikan.

Fakta bahwa Ainun memilih untuk mendampingi Habibie, diantara pilihan baik lainnya, telah menanamkan cikal bakal cinta yang berkekuatan besar dari Habibie kepada Ainun karena cinta itu telah naik satu level menjadi cinta yang saling menghargai. Ainun melihat sesuatu di dalam diri Habibie yang mengalahkan kebaikan pilihan baik lainnya.

Inilah yang saya maksudkan bahwa sesuatu itu menjadi berharga ketika seseorang  menentukan pilihan diantara beberapa pilihan baik lainnya. Akankah Habibie menghargai Ainun sebesar sekarang seandainya Ainun itu seseorang yang  tidak berpendidikan, dan tidak memiliki pekerjaan lain kecuali menunggu dilamar?. Bukankah ajakan ke Jerman itu akan tampak seperti ajakan masuk surga secara tiba tiba ?.

Ainun memiliki pilihan untuk tetap tinggal di Indonesia dan melanjutkan spesialisasinya di bidang kedokteran anak di Universitas Indonesia, tetapi Ainun memilih untuk mengikuti Habibie yang baru akan memulai kariernya di Jerman dan masih belum menyelesaikan pendidikan Doktornya. Habibie melihat dan menyadari fakta tak terbantahkan itu bahwa Ainun menghargai dia melebihi pilihan lainnya.

Saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa kesetiaaan itu menjadi berarti dan bernilai ketika seseorang memiliki pilihan untuk tidak setia, namun dia memilih untuk setia.  Kalau setia hanya karena istrinya menjagai dia siang dan malam seperti agen FBI, maka dapatkah kesetiaan suami itu kita katakan sebagai suatu bukti cinta kepada istrinya ?.

Seorang wanita yang memilih untuk setia kepada pasangannya meskipun kenyataan bahwa diluar sana banyak yang ngotot mengejar dengan segala bujuk rayu, akan membuat kesetiaaan wanita ini bernilai, karena dia punya pilihan untuk tidak setia namun memilih untuk setia. Kalau setia hanya karena tidak ada pria lain yang naksir dan tidak laku laku , nah … anda jawab sendirilah kira kira pada level mana kesetiaan seperti itu dihargai ?.

Jadi yang bisa saya katakan tentang keindahan cinta Habibie-Ainun, adalah ini:

Dasar utama ikatan perkawinan adalah Cinta. Tapi cinta tanpa rasa menghargai, ibaratnya seperti anda mencampur semen tanpa pasir. Penghargaan  sejati  adalah yang timbul dari dalam hati secara tulus karena memang seseorang itu layak dan patut dihargai, dan bukan karena aturan dan norma yang mengharuskan.

Saya sejuta persen setuju bahwa istri haru menghormati suami.  Saya juga sejuta persen menyetujui  bahwa suami yang dihormati itu karena dia memang layak dihormati, dan bukan hanya karena dia berstatus suami, dan peraturan yang mengharuskan.

Marilah kita menjadikan diri kita pantas dihormati dan membekali diri  dengan banyak kemampuan yang baik, sehingga kita memiliki banyak pilihan hidup. Supaya ketika kita telah memilih, maka yang dipilih akan menyadari bahwa dia adalah yang terbaik diantara banyak pilihan baik lainnya, agar ketika cinta yang tadinya buta itu mulai dapat melihat kembali dengan jernih, maka yang dilihat adalah keindahan sejati yang sungguh bernilai.

You don’t love someone because of their looks, or their clothes, or for their fancy cars… but because they sing a song only you can hear.
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Itu Buta Tapi Bukan Membabi Buta"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish