Mengejar Impian

Aku terbangun dari tidurku, kulihat jam. Sudah jam setengah empat, gumamku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku yang hanya sebuah tikar. Kugulung tikar itu, dan segeralah menuju kamar mandi. Setelah itu, aku menyipkan buku dan memasukkan ke dalam tas jeramiku.

”Arif! Ayo Sarapan dulu!” Ibu memanggil untuk sarapan pagi.

”YaBu, tunggu sebentar!”

Segeralah aku ke sana, seperti biasa sarapan pagiku singkong dan segelas teh hangat. Selesai, temanku telah memanggil untuk pergi bersama. Pamitlah aku pada kedua orangtuaku, segeralah aku pergi ke sekolah. Sebelum itu kulihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul lima. Maklumlah kami berangkat sekolah pagi-pagi sekali karena jarak ke sekolah kurang lebih 3 km, masih belum ada kendaraan umum, jadi kami selalu jalan kaki, belum lagi harus melewati sungai yang tidak ada jembatannya. Tempo hari jembatan itu ambruk karena sudah lama dipakai dan rusak, jadi kami berenang menyusuri sungai yang alirannya cukup deras. Kami pun tiba di sekolah, sekolahku bernama SMP Semar, aku kelas tiga SMP. Sekolah kami terletak di Desa Sukoharjo. Waktu menunjukkan setengah tujuh, bel masuk berbunyi. Aku segera menyiapkan buku pelajaran. Waktu berlalu sejam, guru tidak datang , kepala sekolah menghampiri kelas kami. Ternyata guru kami sedang sakit. Apa boleh buat kami jadi belajar sendiri.

Bel pun berbunyi waktu menunjukkan pukul dua. Aku memasukkan buku ke dalam tasku. Segeralah kami pulang ke rumah. Rutenya sama seperti tadi pagi. Sampai di rumah, aku duduk di kursi terasku. Lelah sekali, aku berpikir mencapai cita-cita dan mengejar impian itu memang penuh dengan perjuangan. Apalagi aku masih muda, masih banyak perjalanan yang akan kulalui menuju masa depan. Sebagai generasi penerus bangsa, aku harus melaksanakan kewajiban sebagai pelajar. Belajar yang rajin dan mencari ilmu seluas-luasnya. Seketika itu Ibu memanggil untuk makan siang. Segeralah aku menuju kesana. Makan siangku hari ini seperti biasa nasi dan ikan. Ayahku berprofesi menjadi nelayan, makanya kami sering makan ikan. Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ayah pulang dengan membawa sedikit ikan. Beliau duduk di kursi teras.Aku pun menghampirinya, membawakan segelas air teh hangat. Ayah memberitahukan bahwa hasil tangkapan hari ini sangat sedikit. Aku pun sedih, bagaimana aku mau melanjutkan sekolah, sedangkan Ayah sudah tua. Ibuku juga bekerja, beliau menjajakan kue ke sekeliling desa, tetapi penghasilannya masih tidak mencukupi. Aku masuk ke rumah tetapi Ayah memanggil, “Rif sini dulu, Ayah mau bicara sama kamu!”

“Iya Yah, aku segera ke sana.”

Aku menghampiri ayah dan duduk disampingnya.

“Rif, ada masalah di sekolahmu, kenapa kamu masuk ke dalam?”

“Tidak ada apa-apa Yah.”

“Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu sedih?”

“Sebenarnya begini Yah, aku tidak ingin membebani Ayah dan Ibu untuk membiayai aku untuk sekolah. Jadi lebih baik aku bantu Ibu menjajakan kue ke sekeliling kampung Yah.”

“Jangan bilang begitu ini memang tugas Ayah dan Ibu untuk membiayai kamu ke sekolah, supaya kamu menggapai impian yang kamu impi-impikan Nak.”

Seketika itu datanglah Ibu dan memeluk aku erat-erat.

“Terima kasih Nak, Ibu menjadi terharu ternyaata kamu mengkhawatirkan Ayah dan Ibumu, tapi kata Ayahmu benar kamu harus sekolah untuk mengapai impianmu.”

“Maafkan aku Yah, Bu, aku telah salah pemikiran. Aku takkan mengulanginya lagi.”

“Ya enggak apa-apa Nak, yang penting kamu sadar.”

“Ayah berpesan supaya kamu belajar dengan rajin dan raihlah ilmu seluas-luasnya, kelak kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Jika kamu selalu mendengar pesan dari orangtua kelak itu akan berguna untuk di kemudian hari.”

Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah karena cuaca di luar mulai dingin. Aku bersiap siap untuk tidur tetapi diluar ada yang memanggil namaku.

“Rif! Arif! Ariiif!”

Ternyata tetanggaku Mpok Tika. Beliau meminta tolong untuk membantunya mengangkat beberapa kotak telur ayam ke dalam warungnya. Ternyata orang yang mengantar telur ayam itu kemalaman mengantarkannya, sedangkan pegawai Mpok Tika sudah pulang. Aku pun membantu mengangkat satu persatu kotak telur ayam itu. Beberapa menit kemudian kotak telur itu telah selesai diangkat olehku ke dalam warung Mpok Tika. Mpok Tika berterima kasih dan memberi sekantong telur ayam. Tapi aku menolaknya. Mpok Tika memaksa dan aku mengucapkan terima kasih. Aku pun berjalan pulang ke rumah, lelah sekali hari ini. Kutaruh sekantong telur ayam ke atas meja makan. Aku menuju ke kamar dan membentangkan tikar untuk tidur. Aku pun terlelap dalam tidur.

Keesokannya hari minggu, ada yang memanggil namaku, ternyata itu Fika, teman sebangkuku di sekolah. Dia ternyata mau meminjam buku kesenian. Segera kupersilahkan duduk dan aku menuju ke kamar. Kucari buku kesenian, dan kubawa keluar. Fika sedang duduk di kursi.

“Nih Fik bukunya.”

“Terima kasih Rif. Oh Rif boleh minta bantuan tidak?”

“Boleh, emang ada apa Fik?”

“Sebenarnya aku mau minta diajarkan pelajaran matematika yang kemarin soalnya aku mengantuk karena gurunya ngomong terus.”

”Boleh sih tapi kamu jangan ngomong begitu, tanpa guru kita tidak bisa mengerti apa-apa, tidak bisa menulis, membaca, mengerjakan soal. Jadi guru itu adalah segala-galanya untuk kita.”

“Oh begitu. Maaf ya Rif, aku tadi bicara begitu.”

“Enggak apa-apa yang penting kamu sadar. Baiklah aku ajarkan yang mana kamu tidak ngerti.”

Mereka belajar bersama hingga tidak terasa sudah siang. Fika pun pamit dan berterima kasih pada Arif karena telah membantunya dan mengajarkan apa artinya guru. Fika pun pamit, tapi Ibu keluar.

“Fik jangan pulang dulu, ayo makan siang dulu.”

“Oh terima kasih Bu tapi Fika tidak mau merepotkan Ibu.”

“Nggak apa-apa, ayo masuk Rif, ajak Fika masuk.”

“Fik ayo masuk.”

“Terima kasih Rif.”

Fika masuk bersama Arif menuju meja makan. Fika makan dengan lahap, setelah itu Fika pamit kepada aku dan Ibu. Ibu berpesan pada Fika jangan lupa main lagi ke rumah Ibu. Fika tersenyum, dan pulang kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Arif.

Malamnya Ayah pulang. Beliau membawa sekeranjang ikan hasil tangkapannya dengan gembira. Aku pun menghampiri dan membantu membawakannya ke dapur.

“Syukurlah Bu, hasil tangkapan ayah hari ini banyak.”

“Iya Ibu juga bersyukur karena kita diberi rejeki yang tak terduga.”

“Iya, ini berkat kesabaran Ayah dalam menangkap ikan dan selalu bersyukur Ayah bisa menangkap banyak.”

“Aku gembira bisa melihat kebahagiaan Ayah.”

“Iya Nak, terima kasih Nak.”

Hari semakin larut, Ayah dan Ibu menuju kamar karena telah lelah bekerja untuk menafkahi keluarga ini. Sebelum aku tidur, aku belajar dulu sebentar karena masih belum ngantuk. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah waktunya aku tidur. Aku menyiapkan tikar dan membentangkannya. Direbahkanlah tubuhnya ke tikar. Seketika itu dia teringat apa yang dipelajarinya tadi, pahlawan berjuang mati-matian untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka lebih baik mati daripada dijajah. Memang besar pengorbanan para pahlawan itu, maka setiap upacara hari Senin kita mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan itu. Dulu aku malas melaksanakan upacara karena capek berdiri. Tapi sejak aku di nasehati oleh guruku, aku baru sadar bahwa kita ini generasi muda harus bisa mengisi kemerdekaan itu dengan belajar rajin sebagai pelajar tanah air. Para pahlawan saja bisa memperjuangkan tanah air kenapa kita tidak bisa memperjuangkannya kembali. Aku pun akan seperti mereka mengejar impian yang aku impi-impikan yaitu membahagiakan kedua orangtuaku dan aku ingin menjadi orang yang berguna bagi negara. Arif mulai ngantuk dan terlelap dalam tidurnya.
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengejar Impian"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish