Kapankah Aku Mampu Bersabar

Selasa. Pagi. Saat mentari kembali menertawakan bumi.

Aku bergegas pergi ke sekolah untuk mengambil ijazah. Sabtu kemarin punya teman-temanku sebagian sudah diambil. Ada yang tinggi, pun juga ada yang rendah. Inilah hikmah. Sebuah perbedaan yang tidak akan pernah berakhir. Perbedaan yang tidak mengenal kasta, tidak mengenal rupa, tidak mengenal bentuk, tidak mengenal wujud. Ia akan selalu ada di mana saja. Kapan saja.

Entahlah, semakin aku mengingat nilai ijazah teman-temanku, semakin kuat pula rasa penasaranku untuk melihat nilai ijazahku sendiri. Seperti apakah nilainya. Puaskah aku menerima hasilnya. Atau jangan-jangan… Aku malah kecewa dan tidak sabar menerima semuanya. Suaraku membatin.

Seperti biasa, aku naik mobil angkotan. Sekitar satu jam aku sampai di persimpangan jalan. Di sana aku turun dan langsung berjalan menuju sekolah. Sesampainya di halaman depan sekolah aku bertemu dengan guru agama. Kuberi salam, lalu kucium tangannya. “Nak. Kamu kalau bertemu dengan para ulama, kiyai, juga guru kamu, baik di sekolah, di tempat pengajian ataupun di mana saja. Ciumlah tangan mereka. Jangan lupa ya, Nak! Cium. Karena mencium tangan mereka sama halnya kamu mencium tangan Nabi.” Ya. Seperti itulah mendiang Abah selalu mengingatkanku sebelum aku berangkat sekolah. Setiap hari.

Sejenak aku diajak ngobrol oleh guru agama itu.

“Dek Wafie… Menurut Adek pantas gak agama islam itu dikatakan sebagai agama teroris?” Panggilan adek sudah biasa bagi semua siswa di sekolah ini. Guru yang satu ini memang terkenal sangat bersahabat, sopan, menghormati sesama, baik yang tua maupun yang muda. Dan anehnya, semua murid tidak diizinkan memanggil dirinya dengan sebutan ‘Bapak Guru’. Beliau lebih senang dipanggil mas.

“Yah, cukup mas saja!” Jawab beliau ketika baru masuk ke sekolah ini.

Sejak itulah aku dan teman-teman juga semua siswa di sini akrab dengan beliau dari pada guru lainnya yang kebanyakan sering menganggap dirinya lebih tahu, pintar dan mengerti. Nah, guru yang satu ini, tidak! Beliau selalu merendah diri. Ramah-tamah. Baik kepada murid, pun juga kepada sesama guru yang lain. Bijaksana.

“Loh, emang agama islam itu disebut-sebut sebagai agama teroris tah, mas!” Aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan guru agama tersebut. Karena sebelum-sebelumnya aku tidak pernah mendengar orang mengatakan agama islam itu adalah agama teroris. Baru sekarang. Saat ini.

“Eh, adek gak tahu ya. Kemarin saya baca buku yang di dalamnya disebutkan, bahwa agama islam itu adalah agama teroris. Agama yang ingin merusak, menghancurkan dan memberantas agama lain.” Jawabnya.

Entahlah, aku tidak langsung menimpali penjelasan tersebut. Aku masih bingung. Merasa aneh. Sejenak aku berpikir, apakah benar agama islam telah menjadi agama teroris bagi agama-agama lain. Ataukah agama lain yang berwajah teroris bagi agama islam. Ah, tahulah. Aku masih kaku menafsirkan kebenaran dan kenyataan itu.

Sejurus kemudian, guru agama yang berdiri di dekatku berkata lagi.

“Nah, penyebab timbulnya argumen, bahwa agama islam itu teroris dititik beratkan kepada ulah para penganut islam itu sendiri, Dek! Seperti Imam Samudra, Amrozi, dkk. Terus juga ketika gedung WTC di Amerika runtuh, katanya diprakarsai oleh Osama Bin Laden. Makanya waktu itu Osama diincar oleh pasukan Amerika, bahkan diumumkan keseluruh dunia; barang siapa yang menemukan Osama hidup ataupun mati, maka akan dibayar dengan ribuan juta dollar.” Sambungnya.

Kali ini. Tanpa berpikir panjang aku langsung menimpali ungkapannya. Mungkin juga aku marah. Atau tidak terima karena agamaku sendiri “islam” disebut bahkan dikutuk seperti itu.

“Terus… Mas percaya?” Suaraku agak keras.

Beliau sedikit terperanjat mendengar pertanyaanku itu. Kemudian dengan khas senyumnya beliau pun menjawab.

“Percaya atau tidaknya itu kan tergantung bagaimana kita bisa melihat dan menemukan kenyataan yang sebenarnya, Dek! Kalau ternyata apa yang saya baca itu salah. Iya kenapa toh kita harus percaya, mungkin saja agama lain ingin menjelek-jelekkan agama kita. Dan kalau pun benar, nah ini yang seharusnya perlu kita re-interpretasi. Perlu kita pertanyakan kembali. Mengapa saudara-saudara kita berani melakukan tindakan konyol. Atas dasar apa mereka bertindak seperti itu. Bukankah tindakannya malah akan membawa nama jelek agamanya sendiri, yaitu; islam.” Jelasnya.

“Iya. Iyah! Aku sejutu ucapkan mas itu. Tapi apakah kita akan terus berdiam diri. Tutup mulut. Bungkam. Jika kabar tersebut sudah merajalela. Kan nantinya, malah agama kita (islam) yang dijadikan objek kambing hitam agama mereka. Khususnya agama selain islam.”

Sebentar beliau diam. Tidak langsung menjawab pertanyaanku. Apakah beliau sedang berpikir, atau mencari jawab yang pas. Aku tidak tahu!

Dan kemudian, beliau pun menjawabnya dengan bijak. “Dek,” dengan lembut beliau memulai ucapannya. “Rasulullah adalah panutan dan suri tauladan yang patut kita contoh. Dulu, ketika Beliau menyebarkan agama islam tidak hanya gunjingan, ejekan, cacian-maki dan umpatan yang sering Beliau peroleh. Bahkan orang-orang kafir sering meludahi Beliau ketika sedang berfatwa, terkadang pula lemparan batu-batu kasar yang harus Beliau terima. Tapi apa, sedikit pun Beliau tidak pernah marah, apalagi sampai membenci orang-orang kafir tersebut. Beliau tetap tersenyum. Dan, Beliau tidak pernah membalas gunjingan, ejekan, caci-makian, umpatan, ludahan, serta lemparan batu-batu kasar yang melukai kulitnya. Tidak!!! Beliau tidak pernah membalasnya. Secuil pun, tidak pernah. Beliau justru bersabar dan tabah menghadapinya. Yah, Beliau hanya berserah diri kepada Allah mengenai perbuatan umatnya kala itu. Bahkan Beliau mendoakan umatnya agar dibukakan pintu hatinya dan kembali ke jalan yang terang. Aqidah yang benar.” Lanjutnya panjang lebar.

Sejenak guru agama itu berhenti. Lalu sekejab kemudian beliau meneruskannya lagi.

“Tahukah kamu, Dek! Ketika Baginda Nabi hendak meninggalkan kita semua. Apa pesan terakhir Beliau kepada sahabat Ali; ‘Ummati… Ummati… Ummati…’ Yah, begitulah Nabi kita mengulang-ulang pesannya yang sangat agung itu. Sampai tiga kali.”

“Terus… Apa hubungannya dengan perkataan mas tadi?” Dasar bego! Kenapa harus pertanyaan itu yang keluar dari mulutku. Bodoh… Goblok… Pergulatan batinku sedang bertempur dengan sifat keegoisan diri. Sepertinya, kesabaranku sudah mulai menipis. Suasana menjadi tegang seketika.

Tapi untunglah, beliau orangnya cukup bijak dan pengertian. Sehingga tidak perlu heran dengan pertanyaan dan ulahku yang bodoh itu. Dengan senyum khasnya beliau kembali mengajakku tenang. Damai. Dan, setelah suasana terasa nyaman, beliau pun bertutur dengan nada yang cukup lembut. Halus.

“Dek Wafie… Saya tidak bermaksud menghubung-hubungkan apalagi mencampur-aduk peristiwa di masa Rasul dengan peristiwa yang sering terjadi sekarang ini. Tapi yang saya inginkan dari perkataan tadi adalah; biar Adek tahu pentingnya kesabaran itu sendiri. Kesabaran yang telah dititahkan oleh Baginda Nabi. Bahwa kesabaran merupakan kunci ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dan dengan kesabaran itu pula kita akan meraih kemenangan hakiki. Kemenangan yang direstui sang Ilahi.” Sejenak beliau berhenti. Menghela nafas tinggi-tinggi. Kemudian…

“Jadi, Adek gak perlu pusing memikirkan kejadian-kejadian yang sering menimpa agama kita. Mulai dari jargon agama teroris sampai kepada Al-Qur’an yang sering disalah artikan. Seandainya seluruh jagat raya dan isinya berteriak tentang agama islam yang teroris, kandungan isi Al-Qur’an perkataan Muhammad belaka, dan sebagainya itu. Biarkan saja! Cukuplah, Adek sabar menghadapinya. Layaknya Rasulullah ketika menghadapi umatnya. Yang terpenting dari yang paling penting adalah, Adek tetap yakin dan percaya bahwa agama islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Dan Al-Qur’an adalah kalamullah yang abadi. Nah, dengan bersikap seperti itu sudah cukup. Tidak perlu membalas sebuah kebencian dengan kebencian pula. Itu tidak baik, Dek! Bukankah Allah akan melihat dan menyaksikan seberapa besar nilai kesabaran seorang hamba-Nya ketika dihadapkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Benarkah, kita umat Muhammad sejati ataukah malah umat Fir’aun hakiki.”

Entahlah, aku kembali terdiam ketika beliau menerangkan makna kesabaran itu. Sungguh, aku tidak bisa berucap barang sedikit pun. Laiknya seorang prajurit yang ditegur oleh rajanya. Ia hanya bisa diam. Tanpa sepatah kata. Tertunduk. Dan patuh.

Melihatku seperti itu, akhirnya beliau mengangkat suara lagi. “Dek Wafie, kiranya cukup di sini dulu obrolan kita. Sekarang saya harus mengajar. Dan, Adek harus belajar. Ok?! Assalamu ‘alaikum…” Kemudian beliau beranjak pergi meninggalkanku sendiri.

Dalam diam aku melihat kepergiannya. Jalannya segagah mendiang Abah. Kata-katanya sebijak mendiang Abah. Sifatnya sesopan mendiang Abah. Semuanya tak ada yang beda. Sama. Dalam diam pun aku menjawab salamnya. “Wa’alaikum salam…”

Tak terasa sudah dua jam berlalu. Aku dan beliau berdiri di tempat ini sejak tadi. Sejak mentari menertawai seluruh isi bumi. Sekarang matahari berada di atasku. Menyengat ubun-ubun kepalaku. Merambah sekujur tubuh. Keringat pun sedikit demi sedikit mengucur membasahi seragam sekolahku.

Di ruang guru, teman-teman pada berebutan menerima ijazahnya. Ada yang ceria, pun juga ada yang sedih. Entahlah, apakah karena nilainya tinggi atau malah sebaliknya. Dan tiba-tiba… Guru yang membagi-bagikan kertas ijazah itu menyebut namaku. “Wafie.”

Aku tersentak. Perasaan masih gamang. Tanpa larut dalam lamunan, aku pergi menghampirinya. Kuambil selembar kertas ijazah itu. Dan seperti biasa, kucium tangannya. “Nak. Kamu kalau bertemu dengan para ulama, kiyai, juga guru kamu, baik di sekolah, di tempat pengajian ataupun di mana saja. Ciumlah tangan mereka. Jangan lupa ya, Nak! Cium. Karena mencium tangan mereka sama halnya kamu mencium tangan Nabi.” Ya. Seperti itulah mendiang Abah selalu mengingatkanku sebelum aku berangkat sekolah. Setiap hari.

Entahlah, setiap aku bertemu dengan orang-orang yang kuhormati, pesan itu selalu mengiang di telingaku. Seolah-olah mendiang Abah datang menghampiriku seraya berucap lirih kepadaku. Lembut. Dan halus. Selembut permadani. Sehalus sutera.

“Abah… Lihatlah anakmu sekarang. Akhirnya, selama tiga tahun lamanya anakmu memperoleh juga selembar kertas ijazah sekolah.” Kataku menatap langit yang cerah. Dengan senyum gembira.

“Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Suara itu datang entah dari mana. Tapi aku mendengarnya. Cukup jelas. Seperti suara manusia. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Tapi, tidak ada seorang pun di sana.

“Benarkah itu suaramu, Abah?” Tanyaku heran.

Dan… “Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Kembali suara itu terdengar di telingaku. Jelas sekali.

“Benarkah itu, Abah!” Gumamku. Tidak mungkin, Abah telah meninggal. Masak iya, orang yang sudah mati bisa bicara dengan orang yang masih hidup. Tapi, suara itu…

Dan seketika. “Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Lagi. Lagi. Dan lagi. Suara itu sudah tiga kali terdengar sangat jelas di gendang telingaku. Saat itu juga aku yakin, bahwa itu suara Abah. Siapa lagi kalau bukan Abah. Kemudian, tanpa berpikir panjang aku langsung menyimak dengan seksama semua nilai yang tertulis dalam ijazahku.

Mataku terbelalak. Nanar. Kakiku mengambang. Lentur.

Lihat. Nilai ijazahku semuanya rata-rata 5,86. Tidak lebih. Pun juga tidak kurang.

Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Mengucur deras. Dan, tangis pun tumpah di sudut sekolah. Badanku menjadi lemas seketika. Tak bertenaga. Tubuhku terkulai. Roboh. Tak sadarkan diri.

Dan, tiba-tiba dalam gelap aku melihat cahaya. Cahaya itu menghampiriku. Makin dekat. Dekat. Dan dekat. Entahlah, siapakah gerangan cahaya itu. Malaikat-kah, Jin-kah, Setan-kah atau Abah-kah. Aku tidak tahu! Yang kutahu, cahaya itu berkata kepadaku;

“Duh, Nak! Bukankah gurumu telah mengajarkan pentingnya sifat kesabaran dalam menghadapi dan menerima cobaan. Tapi kenapa kamu kok malah bersedih. Apakah kamu tidak ikhlas merima nilai yang diperoleh dari hasil kerjamu sendiri. Nak… Sebagai manusia mestinya kamu harus sabar. Kuulangi, sabar. Karena hanya dengan bersabar itulah Allah akan melihatmu tersenyum bangga. Ya. Tersenyum bangga, Nak!”

Setelah berkata demikian, cahaya itu pergi meniggalkanku. Makin jauh. Jauh. Dan jauh. Hingga lenyaplah di ujung kelopak mataku.

Dan, aku hanya bisa termangu.
Jika Kamu masih ingin mencari artikel lainnya, silakan gunakan fitur pencarian yang ada pada blog ini:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kapankah Aku Mampu Bersabar"

Post a Comment

=> Silakan Berkomentar Sesuai Artikel yang Dibaca
=> Komentar yang Tidak Sesuai Tidak Akan Dipublish